“Berani Menulis: Mengatasi Rasa Takut dengan Pena”

Waktu masih kecil, di SDN Kadipaten, saya sering diminta guru untuk mengarang. Tidak semua teman saya menyukai tugas ini; ada yang merasa terbebani, sementara yang lain penuh antusiasme. Saya? Saya berada di tengah-tengah: menulis itu mudah, tapi terkadang saya bingung harus menulis tentang apa.

Saya ingat perasaan malu saat harus menceritakan kehidupan rumah saya, terutama jika dibandingkan dengan teman-teman yang ayahnya pejabat atau memiliki cerita menarik lainnya. Namun, guru kami, Ibu Siti Subandiah, memberikan pencerahan: “Mengarang tidak harus minder. Ceritakan saja apa adanya, apa yang membuatmu bahagia.”

Nasihat itu mengubah segalanya. Saya mulai menulis tentang apa saja – termasuk pengalaman saya belajar berenang dengan cara yang sangat sederhana: nekat terjun ke balong di belakang masjid. Pengalaman itu, yang awalnya terasa sepele, menjadi kemenangan pribadi yang berharga ketika tulisan saya memenangkan lomba mengarang tingkat sekolah dan kecamatan.

Di SMP Kadipaten, saya menulis sebuah artikel tentang Kartini. Saya menulis dengan bebas, tanpa referensi, hanya ekspresi perasaan saya tentang perempuan yang harus berpendidikan, bukan hanya pandai di dapur. Saya menulis, “Perempuan tidak hanya harus pintar membuat sambal, tapi juga harus bisa sekolah dan menjadi dokter.”

Kisah ini membuktikan bahwa menulis bukanlah tentang ketakutan, tapi tentang keberanian untuk mengungkapkan diri. Seperti kata Ernest Hemingway, “Tulislah satu kalimat yang benar. Tulislah kalimat paling benar yang kamu tahu.” Begitulah saya memulai setiap tulisan saya: dengan satu kebenaran sederhana yang saya yakini.

Menulis memang bisa terasa menantang di awal. Kata-kata mungkin terhambat, tapi percayalah, semakin sering Anda menulis, semakin lancar kata-kata itu mengalir. J.K. Rowling pernah berkata, “Kamu bisa selalu mengedit kata-kata buruk. Kamu tidak bisa mengedit halaman kosong.” Jadi, mulailah menulis, tanpa takut.

Saya percaya setiap orang memiliki cerita unik untuk diceritakan. Tidak perlu menjadi anak pejabat atau memiliki kisah luar biasa. Setiap pengalaman Anda adalah unik dan layak ditulis. Ingatlah bahwa setiap penulis besar dimulai dari satu halaman kosong.

Dalam perjalanan menulis Anda, mungkin akan ada rintangan dan keraguan, tapi seperti kata Stephen King, “Jalan menuju neraka diselubungi dengan adverb.” Jangan terlalu banyak menghias kata, tulislah apa adanya.

Mari kita berani menulis. Ceritakan kisah Anda. Biarkan kata-kata Anda menginspirasi, menghibur, dan mencerahkan. Dunia menunggu cerita Anda.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*